Komentar komedian veteran Jepang Kuniko Yamada di sebuah program Kansai TV memicu kritik daring setelah ia berbicara tentang “twilight divorces”, istilah yang merujuk pada perceraian di usia pernikahan yang sudah panjang. Kontroversi ini bermula bukan dari pengumuman resmi atau perkara hukum, melainkan dari pernyataan di siaran yang kemudian dikutip media mingguan perempuan Jepang, Josei Jishin. Berdasarkan laporan itu, sebagian warganet menilai ucapannya seksis terhadap laki-laki, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai candaan yang merujuk pada dinamika rumah tangganya sendiri. Karena sumber yang tersedia hanya merangkum tayangan dan respons publik sesudahnya, beberapa hal tetap berada pada level kutipan media, reaksi publik, dan interpretasi, bukan temuan yang sudah diverifikasi lebih jauh.
Fakta utama
Josei Jishin melaporkan bahwa Kuniko Yamada menyampaikan komentar tersebut saat tampil di sebuah program Kansai TV yang membahas statistik “twilight divorces”. Dalam episode itu, program memperkenalkan data bahwa pada 2025 jumlah perceraian secara nasional di Jepang mencapai 179.073 kasus, dan perceraian pada pasangan yang telah menikah selama 20 tahun atau lebih mencakup 24,2% dari total, yang disebut sebagai rasio tertinggi yang pernah tercatat.
Dalam konteks pembahasan itu, Yamada, yang disebut telah menikah selama 26 tahun, mengatakan, “At first, he was a man. As you get older, women remain lively, but men stop functioning. They are just objects now.” Ia juga menambahkan, “If there’s no consideration, then aren’t they no longer needed?”
Pembawa acara Ryoji Ishii kemudian menanyakan apakah ia masih berpandangan seperti itu. Menurut laporan yang sama, Yamada menjawab, “I still do. And it’s not going to change now. We’re already adults.” Ketika ditanya apakah ia sedang memikirkan perceraian, ia menjawab, “That won’t happen. I actually want to become a widow as soon as possible.”
Saat Ishii menyatakan kekhawatiran bahwa suaminya mungkin akan menonton tayangan tersebut, Yamada menjawab, “My husband is very healthy. This morning, he even saw me off at Tokyo Station. He just has nothing else to do.” Di segmen yang sama, tamu lain, Toru Hashimoto, ikut berkomentar, “Saying that much shows how close you really are.”
Setelah siaran, kritik bermunculan secara online. Menurut sumber, sejumlah warganet menuduh pernyataan itu diskriminatif terhadap laki-laki. Contoh reaksi yang dikutip antara lain, “If someone said women stopped functioning and were just objects when they got older, they would be harshly criticized,” serta “Isn’t this complete discrimination against men?”
Di sisi lain, tidak semua pembacaan bersifat sama. Josei Jishin mengutip seorang penulis media web yang berpendapat bahwa karena Yamada lebih dulu memberi syarat “if there’s no consideration,” kemungkinan ia sedang mengekspresikan hubungannya dengan sang suami dengan nada agak humoris. Namun, penulis yang sama juga mencatat bahwa generalisasi tentang “men” dan pilihan kata yang keras membuat ucapannya mudah dipersepsikan sebagai diskriminatif terhadap laki-laki.
- Kuniko Yamada menikah dengan CEO sebuah perusahaan produksi video pada 2000.
- Ia lama dipandang sebagai bagian dari salah satu pasangan selebritas yang menonjol di dunia hiburan Jepang.
- Popularitasnya naik pada 1980-an dan ia pernah membawakan beberapa program yang memakai namanya sendiri.
- Dari 1988 hingga 1995, ia menempati posisi teratas survei entertainer favorit NHK untuk pria dan perempuan selama delapan tahun berturut-turut.
- Setelah sempat lebih jarang tampil di TV, ia kembali menonjol pada 2022 sebagai juri M-1 Grand Prix.
Mengapa ini penting
Kasus ini penting karena memperlihatkan bagaimana komentar di acara hiburan dapat berubah menjadi perdebatan yang lebih luas tentang standar ganda, humor, dan stereotip gender. Dalam sumber yang tersedia, kritik utama dari warganet bukan hanya soal nada ucapannya, tetapi juga soal generalisasi. Reaksi yang dikutip menunjukkan bahwa sebagian publik menilai standar penilaian bisa berbeda apabila pernyataan serupa diarahkan kepada perempuan.
Data perceraian yang diangkat dalam program juga memberi konteks mengapa topik tersebut sensitif. Ketika perceraian pada pasangan dengan usia pernikahan 20 tahun atau lebih mencapai 24,2% pada 2025, pembahasan soal relasi jangka panjang, peran pasangan, dan rasa saling mempertimbangkan menjadi isu sosial yang lebih besar daripada sekadar candaan studio. Namun, penting dicatat bahwa data statistik itu hanya menjadi latar diskusi; sumber tidak menyatakan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara angka tersebut dan komentar Yamada.
Kontroversi ini juga menonjol karena melibatkan figur yang sudah lama dikenal publik Jepang. Status Yamada sebagai komedian veteran dan tokoh televisi dengan rekam jejak panjang membuat ucapannya mendapat sorotan lebih besar. Dalam kasus seperti ini, bobot reaksi publik sering kali bukan hanya ditentukan oleh isi komentar, tetapi juga oleh siapa yang mengucapkannya dan dalam konteks acara apa komentar itu muncul.
Hal yang perlu diperhatikan
Ada beberapa tingkat kepastian dalam laporan ini yang perlu dibedakan dengan jelas. Pertama, keberadaan program, topik statistik perceraian, dan kutipan yang dinisbahkan kepada Yamada dilaporkan oleh Josei Jishin sebagai fakta dari penayangan tersebut. Kedua, tuduhan bahwa komentarnya seksis terhadap laki-laki berasal dari kritik warganet setelah siaran, sehingga itu merupakan reaksi publik, bukan penetapan resmi dari otoritas mana pun.
Ketiga, pembacaan bahwa pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai humor adalah interpretasi seorang penulis media web yang dikutip Josei Jishin, bukan konfirmasi dari Yamada sendiri. Sumber juga tidak memuat klarifikasi lanjutan, permintaan maaf, atau pernyataan resmi dari Yamada, Kansai TV, maupun pihak lain setelah kontroversi mencuat. Karena itu, tidak ada dasar dalam materi sumber untuk menyimpulkan niat final di balik ucapannya.
Selain itu, artikel sumber tidak menyebut adanya konsekuensi profesional langsung, seperti pembatalan penampilan, sanksi penyiaran, atau tindakan hukum. Tidak ada pula informasi tentang tanggapan suaminya. Dengan kata lain, yang bisa dipastikan dari sumber hanya adanya komentar di siaran, munculnya kritik online, dan adanya satu pandangan alternatif yang menilai komentar itu mungkin disampaikan secara humoris dalam konteks hubungan pribadi.
Perlu pula ditekankan bahwa isu ini tidak berkaitan dengan harga, peluncuran produk, atau ketersediaan di Indonesia. Tidak ada informasi relevan mengenai ketersediaan atau konfirmasi apa pun untuk Indonesia dalam sumber.
Kesimpulan
Berdasarkan sumber yang tersedia, kontroversi terhadap Kuniko Yamada bertumpu pada satu rangkaian komentar yang dianggap sebagian publik sebagai generalisasi merendahkan laki-laki. Fakta yang terkonfirmasi dalam laporan adalah konteks pembahasan “twilight divorces”, kutipan ucapan Yamada sebagaimana dilaporkan Josei Jishin, serta adanya gelombang kritik online sesudah tayangan. Di luar itu, penilaian tentang apakah komentar tersebut murni bercanda, cerminan hubungan pribadinya, atau benar-benar bersifat diskriminatif masih berada pada ranah interpretasi.
Yang membuat kasus ini menonjol bukan hanya isi pernyataannya, tetapi juga bagaimana ucapan figur publik berpengalaman bisa memicu debat lebih luas soal bahasa, stereotip gender, dan batas humor di ruang siaran. Tanpa klarifikasi tambahan dari Yamada atau pihak stasiun TV, kesimpulan yang paling hati-hati adalah bahwa ini merupakan kontroversi berbasis persepsi publik terhadap komentar yang dinilai keras, dengan konteks yang masih terbuka untuk ditafsirkan.