Episode penutup drama Korea Four Hands, Two Sonatas memicu reaksi negatif dari sebagian penonton, menurut sumber yang dirangkum Koreaboo pada 4 Oktober 2026. Sorotan utamanya bukan hanya pada nasib karakter Jeongyo, tetapi juga pada cara hubungan Jeongyo dan Pio dibaca oleh penonton. Dari materi sumber, kritik yang muncul terbagi dalam dua kelompok: kekecewaan terhadap akhir cerita yang dinilai terlalu merugikan Jeongyo, serta tudingan queerbaiting karena serial dianggap membangun tensi romantis tanpa benar-benar menjadikannya hubungan romantis. Penting dicatat, penilaian ini berasal dari reaksi penonton yang dikutip di media sosial, bukan pernyataan resmi pembuat serial.
Fakta utama
Menurut sumber, Four Hands, Two Sonatas dibintangi Song Kang sebagai Pio dan Lee Jun Young sebagai Jeongyo. Ceritanya berpusat pada hubungan rumit dua karakter tersebut.
Alur yang dijelaskan dalam sumber dimulai dari Jeongyo, seorang pianis berbakat, yang hidupnya berubah setelah ia diculik dan ditembak di bahu. Cedera itu menyebabkan kerusakan saraf dan membuatnya tidak bisa lagi bermain piano. Bertahun-tahun kemudian, Jeongyo kembali sebagai konduktor sukses dan ingin membalas dendam karena meyakini Pio terlibat dalam penculikannya.
Belakangan, Jeongyo mengetahui bahwa Pio bukan dalang di balik kejadian itu. Sumber menyebut bahwa ibu Pio justru menjadi pihak yang bertanggung jawab. Setelah mengetahui kebenarannya, Jeongyo menyesali tindakannya, meminta maaf kepada Pio, dan berusaha membantu Pio kembali bermain piano ketika Pio diliputi rasa bersalah.
Namun, akhir cerita tidak bergerak ke arah pemulihan penuh bagi Jeongyo. Sumber menyatakan Jeongyo sempat kembali bermain piano untuk waktu singkat meski masih mengalami cedera, dengan tujuan membantu Pio kembali bermain. Setelah itu, kerusakan pada tangannya kambuh, sehingga ia tidak bisa melanjutkan karier sebagai pianis maupun konduktor. Pada saat yang sama, ibu Pio menjalani hukuman penjara selama tiga tahun sebelum dibebaskan, sementara Jeongyo akhirnya kembali ke biara.
- Kritik pertama yang tercatat dalam sumber: Jeongyo dinilai menanggung kerugian terbesar hingga akhir cerita.
- Kritik kedua: sebagian penonton menilai dinamika Jeongyo-Pio terasa seperti romansa yang tidak pernah dikonfirmasi secara eksplisit.
- Sejumlah komentar yang dikutip menyebut akhir cerita akan terasa “lebih masuk akal” jika serial ini memang dibuat sebagai drama BL.
Mengapa ini penting
Reaksi terhadap akhir Four Hands, Two Sonatas menunjukkan dua hal yang sering menentukan penerimaan penonton terhadap drama serial. Pertama adalah soal distribusi konsekuensi dalam cerita. Dari ringkasan sumber, Jeongyo mengalami penculikan, cedera permanen, kehilangan kemampuan musikal, lalu pada akhir cerita kembali kehilangan peluang untuk bertahan sebagai pianis maupun konduktor. Sementara itu, sebagian penonton yang dikutip merasa karakter lain tidak menanggung dampak yang sebanding. Itulah yang membuat penutupan kisah ini dipersepsikan tidak setara atau tidak memuaskan.
Kedua adalah soal ekspektasi genre dan pembacaan penonton terhadap relasi antarkarakter. Sumber tidak menyebut bahwa serial ini dipasarkan sebagai drama BL, dan tidak ada pernyataan resmi dari pembuat serial yang dikutip untuk mengonfirmasi niat kreatif mereka. Meski begitu, komentar penonton yang dikutip menunjukkan bahwa sebagian audiens membaca interaksi Jeongyo dan Pio sebagai hubungan dengan muatan romantis yang kuat. Ketika pembacaan itu tidak diwujudkan secara eksplisit di akhir cerita, sebagian penonton lalu menyebutnya sebagai queerbaiting.
Istilah itu sendiri, dalam konteks ini, adalah tuduhan dari penonton, bukan fakta yang telah dibuktikan. Namun, kemunculannya tetap relevan karena memperlihatkan jurang antara apa yang dirasakan audiens dari sebuah narasi dan apa yang secara eksplisit dikonfirmasi oleh cerita. Bagi industri drama Korea, reaksi seperti ini penting karena dapat memengaruhi persepsi publik terhadap cara sebuah serial membangun karakter, konflik, dan kedekatan emosional antar tokoh.
Hal yang perlu diperhatikan
Ada beberapa batas informasi yang jelas dalam materi sumber. Pertama, sumber terutama merangkum sinopsis dan reaksi penonton di media sosial. Tidak ada data penayangan, angka penonton, peringkat resmi, atau pernyataan dari rumah produksi, penulis, sutradara, maupun platform distribusi yang dikutip untuk menanggapi kritik tersebut.
Kedua, klaim bahwa serial ini “seharusnya menjadi BL” atau “jelas drama BL” adalah opini penonton yang dikutip, bukan klasifikasi resmi. Karena itu, penyebutan bahwa akhir serial “diejek karena bukan BL” perlu dipahami sebagai gambaran reaksi warganet, bukan penetapan genre yang sah.
Ketiga, tudingan queerbaiting dalam sumber juga berada pada level tuduhan penonton. Tanpa pernyataan kreator atau materi promosi resmi yang menjanjikan arah romansa tertentu, kesimpulan tersebut tetap bersifat interpretatif. Ini penting agar kritik penonton tidak dibaca sebagai fakta yang sudah terverifikasi.
Keempat, sumber tidak memuat informasi mengenai jadwal tayang tambahan, ketersediaan di Indonesia, maupun konfirmasi harga atau paket langganan terkait penayangan serial ini di Indonesia. Dengan demikian, ketersediaan dan akses spesifik untuk pasar Indonesia belum dikonfirmasi dalam materi yang tersedia.
Kesimpulan
Berdasarkan sumber, kontroversi akhir Four Hands, Two Sonatas bertumpu pada rasa frustrasi penonton terhadap nasib Jeongyo dan pada pembacaan bahwa hubungan Jeongyo-Pio dibangun dengan intensitas emosional yang memicu ekspektasi romansa. Fakta yang dapat dipastikan dari sumber adalah jalur cerita akhir yang membuat Jeongyo kehilangan lebih banyak hal, serta adanya gelombang komentar yang mengecam keputusan tersebut. Sementara itu, anggapan bahwa serial ini semestinya menjadi BL dan tuduhan queerbaiting tetap berada pada ranah opini penonton. Dengan kata lain, yang terlihat jelas bukan perubahan resmi genre drama ini, melainkan benturan antara arah cerita yang ditampilkan dan ekspektasi audiens terhadap penutupannya.