Kakaknya, yang bekerja di perusahaan medis, selalu sibuk dan punya mimpi untuk hidup mandiri dan berkeliling dunia. Sayangnya, ia meninggal pada 2020 karena komplikasi penyakit yang sudah ada sebelumnya. Gayoon mengungkapkan betapa menyakitkannya mengatur barang-barang kakaknya yang baru saja pindah sendiri. Semua barang elektroniknya masih baru, seolah menunggu untuk digunakan. Ini membuat Gayoon berpikir tentang betapa singkatnya hidup dan memutuskan untuk tidak menunda-nunda keinginannya lagi.
Di Bali, Gayoon menemukan kebebasan yang selama ini ia cari. Ia mulai menjalani hidup tanpa beban, makan apa pun yang ia mau tanpa memikirkan orang lain. Di Korea, ia bahkan tidak pernah pergi ke kafe sendirian karena takut. Tapi di Bali, ia merasa bahagia hanya dengan keluar rumah tanpa riasan dan mengenakan pakaian santai.
Pengalaman ini membantunya mengatasi kebiasaan makan berlebihan dan memberinya kedamaian. Meski hidupnya sekarang penuh ketidakpastian, Gayoon memilih untuk menikmati setiap harinya tanpa penyesalan. Ia berharap kita semua bisa menjalani hidup tanpa menunda kebahagiaan, dan selalu menjaga kesehatan serta menikmati kebahagiaan kecil sehari-hari.
Gayoon yang memulai debutnya bersama 4minute pada 2009, kini lebih fokus pada karier menulis setelah grupnya bubar pada 2016. Di Bali, ia menemukan inspirasi baru dan merilis kumpulan esai yang menceritakan perjalanannya. Meski penghasilannya tidak sebesar dulu dan masa depannya tidak pasti, Gayoon lebih memilih untuk melindungi kehidupan sehari-harinya daripada mengejar sesuatu yang tidak jelas. Jadi, teman-teman, yuk kita belajar dari Gayoon untuk hidup lebih bebas dan menikmati setiap momen tanpa penyesalan. Siapa tahu, kebahagiaan kita ada di tempat yang tak terduga, seperti di Bali misalnya!